|
(JAKARTA, 17 Februari)--Ketua Umum PP Muhammadiyah yang juga Wakil Sekretaris Jendral World Islamic Peoples Leadership (WIPL)/Kepemimpinan Rakyat Islam Sedunia (KRIS), Prof. Dr. Din Syamsuddin menyatakan, dirinya benar-benar mengkhawatirkan nasib para pengungsi Rohingnya yang kini masih berada di Aceh. Pernyataan itu disampaikannya pada para wartawan di sekretariat CDCC (Centre for Dialogue and Cooperation among Civilization), Selasa (17/2) siang. Pada kesempatan itu Din Syamsuddin mendorong pemerintah agar menangani pengungsi Rohingya dengan baik karena kepergian mereka ke Indonesia memang bukan sekedar persoalan ekonomi melainkan juga menyangkut persoalan HAM.
Din Syamsuddin yang pada jumpa pers didampingi Muhyidin Junaedi—Country Representative WIPL di Indonesia, dan juga Dr. Abdul Mu'ti--Direktur Eksekutif CDCC, menegaskan, kekhawatiran dirinya atas pengungsi Rohingnya bukan tanpa alasan. Pasalnya, informasi yang dia terima, para pengungsi tidak akan berani pulang karena apabila pulang ke Myanmar, maka mereka akan dibunuh oleh aparat setempat. Oleh karena itu, ditegaskan Din, Muhammadiyah menyatakan siap menampung dan menangani para pengungsi, apabila sampai hati pemerintah mengusir mereka.
"Pertama, saya menyatakan keprihatian yang mendalam atas terdamparnya mereka di Indonesia. Mereka telah menderita panjang sejak meninggalkan negaranya. Tanpa menggunakan mesin pada perahu yang mereka tumpangi, para pengungsi susah payah hingga sampai ke Aceh. Saya mendengar, pada tubuh mereka terdapat beberapa luka akibat dianiaya aparat,"ujar Presiden Asian Conference on Religion for Peace (ACRP) dan Presiden Kehormatan World Conference on Religion for Peace (WCRP) itu.
Ditegaskannya, Myanmar mestinya tidak boleh mengusir warga negaranya dengan alas an apapun. Maka dari itu, dirinya mendesak agar penanganan terhadap mereka dilakukannya secara manusiawi dan mengedepankan ukhuwah islamiyah.
"Jangan sampai pemerintah kita kemudian lepas tangan. Seolah para pengungsi itu adalah dikarenakan persoalan ekonomi semata. Saya juga mengajak pada pimpinan agama dunia untuk mengunjungi mereka, dan membicarakan nasib mereka itu. Kalau perlu ada sikap politik terkait pengungsi Rohingnya,"tambahnya.
Din Syamsuddin dengan WIPL nya, berencana menggalang solidaritas negara-negara ASEAN untuk mendatangi Myanmar agar menangani warga negaranya sehingga tak ada pengungsi lagi seperti yang terjadi sekarang ini. Dikatakan Din, organisasi-organisasi pembela HAM dunia, semestinya peduli dengan nasib para pengungsi Rohingnya, dan turut memberikan perhatian yang besar.
"Jumlah mereka lumayan besar. Sekitar 300-400 pengungsi yang terdiri atas anak-anak, orang tua dan dewasa dan perempuan. Sebagian di Aceh, dan sebagian lagi di tempat lain. Kami sangat memprotes keras kepada Mynamar atas peristiwa pengusiran dan pengungsian warga negaranya itu. Karena itu menunjukkan sikap yang tak berperikemanusiaan dan tak berperikeadilan. Kepada negara-negara Asean dan Indonesia mohon kiranya atas dasar kemanusiaan untuk menerima mereka,"ujar Din.
Menurut Din, karena jika kepulangan para pengungsi Rohingnya ke negara asalnya keselamatan tak terjamin, maka alangkah baiknya para pengungsi agar tinggal di Indonesia karena kalau tidak, mereka tidak bisa mengungsi lagi. Dan kemungkina kecil
para pengungsi pulang ke negara asalnya.
"Jika tak ada yang menerima, maka KRIS dan Muhammadiyah siap menerima mereka itu. Kami siap menampung mereka dan membantu apa yang mereka butuhkan. Sebagai Negara yang berpenduduk muslim terbesar dunia, alangkah baiknya kita peduli dan memperhatikan nasib saudara kita itu,"ucap Din.
Pada sesi penutup, Din mengatakan bahwa dirinya Rabu (18/2) pagi, akan bertolak ke Australia, untuk bertemu dengan Perdana Menteri Kevin Ruud yang pada beberapa waktu lalu sudah mendahului bertemu dirinya di PP Muhammadiyah.
"Selain bertemu Kevin Ruud, saya juga akan meresmikan Cabang Muhammadiyah di sana dan beberapa agenda lain,"ungkapnya. Din sendiri, tidak akan mengikuti pertemuan dengan Hillary Clinton yang mengundang dirinya untuk ikut makan malam bersama pejabat dan tokoh lain di Jakarta Selasa malam. Din beralasan, kalau hanya makan malam bersama, maka tidak ada sesuatu yang bisa disampaikan kepada Hillary. Maka dari itu, dia memilih untuk melawat ke negeri Kanguru hingga pekan depan. (mn) |