| PERLU KEBERANIAN POLITIK ATASI PENGANGGURAN dan KEMISKINAN |
|
|
|
| Saturday, 24 January 2009 | |
|
(Jakarta, 24 Januari)—Keberanian politik diperlukan dalam mengatasi masalah pengangguran dan kemiskinan di Indonesia, dengan memberikan perhatian lebih pada bidang-bidang industri yang memiliki daya serap tenaga kerja tinggi, seperti sektor pertanian, pertambangan, dan sektor manufaktur. Karena itu semestinya pemerintah memfokuskan diri pada sektor-sektor tersebut melalui alokasi anggaran yang cukup dan insentif pajak. Demikian pokok-pokok pikiran Prof. Dr. Din Syamsuddin yang disampaikan di depan peserta Rapat Kerja Nasional (Rakernas) Partai Buruh pimpinan Muchtar Pakpahan, Sabtu (24/1) malam ini di Asrama Haji Pondok Gede Jakarta, Din mengingatkan akan kenyataan bahwa pengangguran dan kemiskinan di negeri ini masih persoalan besar bangsa. Hal ini dirasakannya dari keluhan langsung masyarakat dalam setiap kali kunjungan di berbagai daerah pelosok Indonesia yang sering ia lakukan. "Maka dari itu, pemerintah hendaknya berusaha memaksimalkan penyerapan tenaga kerja untuk mengatasi hal tersebut. Jika tidak, angka kemiskinan dan pengangguran akan terus membengkak”, ucapnya. Din mencatat, setiap tahun ada sekitar dua juta angkatan kerja baru yang harus diserap. Agar pengangguran bisa terserap diperlukan angka pertumbuhan ekonomi 10 persen. “Informasi yang saya terima, setiap pertumbuhan satu persen, saat ini hanya mampu menyerap 200 ribu tenaga kerja. Kenyataan ini, tentu sangat jauh berbeda dibanding saat masa pemerintahan masa lampau, dimana setiap pertumbuhan satu persen, ternyata mampu menyerap 500 ribu," papar Din Syamsuddin yang juga pernah menjabat sebagai DirJen Binapenta Depnakertrans. Selain itu, dalam sektor pertanian Din mendesak perlunya kebijakan yang bisa menjamin ketersediaan pupuk, dan stabilitas harga hasil panen. ”Saya prihatin saat ini, karena pihak yang berperan sebagai penjamin stabilitas harga, --yakni Bulog yang sekarang kembali lagi menjadi Perum Bulog, tidak memainkan peranannya,”. tegas Ketua Umum PP Muhammadiyah itu. Dalam keadaan ekonomi nasional belum memiliki daya saing di pasar bebas, menurut Din, perhatian lebih industri dalam negeri masih diperlukan. Dicontohkannya, Amerika Serikat yang menjadi kampiun pasar bebas,memproteksi harga produk-produk pertanian, seperti jagung dan gandum. Beberapa negara Eropa mesti menyewa ribuan tanah untuk mengembangkan pertanian, industri maupun pertambangan.. "Semua memang memerlukan langkah ekonomi politik, dengan keberanian melindungi dan memberikan anggaran yang cukup, kita mestinya bisa," pungkasnya. Pada kesempatan yang sama, kepada peserta Rakernas, Din mewanti-wanti agar seluruh warga negara, terutama warga Partai Buruh, bisa bersama-sama turut dalam program pengentasan masyarakat miskin yang telah diprogramkan pemerintah. Kehadiran Din Syamsuddin pada Rakernas Partai Buruh ini untuk memenuhi permintaan memberikan pesan-pesan khusus kepada segenap pengurus Partai Buruhse Indonesia pimpinan Muchtar Pakpahan, yang berkumpul di Asrama Haji selama dua hari sejak Jumat (23/1). Kehadiran Din kali ini, merupakan kali ketiga, setelah sebelumnya juga menghadiri acara pembekalan calon legislatif Partai Buruh di Jakarta dan di Bandung Jawa Barat beberapa waktu lalu. (mn/ek)
|
| < Prev | Next > |
|---|









