NEGARA NEGARA MAJU HARUS IKUT INVESTASI PERDAMAIAN
Sunday, 01 February 2009

(New York, 1 Februari 2009)—Negara-negara maju, seperti AS, Uni Eropa, Cina, India dan Jepang, harus ikut berinvestasi dalam menciptakan perdamaian dunia. Ketiadaan perdamaian dan krisis-krisis global selama ini harus diakui adalah akibat kegagalan sistem dunia yang didukung negara-negara maju. Demikian dikatakan Din Syamsuddin, Presiden Kehormatan WCRP dan Presiden ACRP pada World Summit on Peace (WSP) dan International Leadership Conference (ILC) di Mew York 29 Januari.

WSP dan ILC, disponsori oleh Universal Peace Federation (UPF), sebuah
organisasi perdamaian dunia yang bermarkas di Washington, DC, dihadiri 300-an
tokoh dunia dari berbagai negara, berlangsung 29 Jan-1 Peb dengan thema
"Building a World of Universal Peace: One Family Under God".

Din Syamsuddin yang beberapa waktu lalu diangkat UPF sebagai Ambassador for Peace berbicara sebagai keynote speaker pada pembukaan acara tersebut, lebih lanjut mengatakan bahwa berbagai manifestasi ketiadaan perdamaian seperti kemiskinan, penganggura, kebodohan, kerusakan limgkungan sampai kepada krisis energi, pangan, dan keuangan dunia diakibatkan keserakahan negara-negara maju untuk menguasai dunia bahkan dengan menggelar kekuatan keras (hard power) melalui invasi, pendudukan dan
pendesakan kehendak.

Karena mereka bertanggungjawab dalam menciptakan kerusakan, maka sekarang mereka harus ikut bertanggungjawab dalam memperbaikinya kembali. sebab kalau tidak, Negara-negara maju juga akan terkena getah seperti yang mereka alami dari krisis energi dan keuangan global terakhir ini. Oleh sebab itu perlu ada kesadaran baru dari para pemimpin Negara-negara maju, khususnya AS.

“Maka kita berharap kepada Presiden baru AS, Barrack Obama, untuk mengubah pendekatan AS terhadap dunia dan mengambil prakarsa-prakarsa positif dan konstruktif dalam membangun tatanan dunia baru yang damai, sejahtera, berkeadilan dan berkeadaban. Dunia menantikan kepemimpinan baru yang mencerahkan, dan dengan kesadaran moral tinggi melakukan perubahan”, harap Din.

Din Syamsuddin menegaskan, inilah saatnya bagi bangsa-bangsa cinta damai dan keadilan untuk bangkit dan bekerjasama membangun perdamaian sejati, menghentikan kezaliman dan penjajahan baru dalam berbagai bentuknya. Maka perlu ada sistem altermatif terhadap sistem dunia yang rusak selama ini yang berorientasi memecahkan masalah umat manusia, seperti mengentaskan kemiskinan dan pengangguran, melenyapkan penyakit menular, memperbaiki kerusakan lingkungan, menghentikan perang dan berbagai bentuk kekerasan lainnya.

Dalam kaitan ini, Din Syamsuddin mengajukan agar agama tampil berperan dgn mendorong etika agama untuk perubahan, perbaikan dan kemajuan. Ini hanya mungkin terjadi jika agama menampilkan misi sucinya sebagai penebar rahmat bagi alam semesta (rahmatan lil 'alamin). (ds).