AS Harus Tinggalkan Paradigma Lama
Friday, 06 February 2009

(Washington, 5 Februari)--Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Prof. Dr. Din Syamsuddin termasuk salah seorang tamu internasional yang hadir pada International Prayer Breakfast bersama Presiden Obama dan Wakil Presiden Biden di Washington, DC 5 Februari pagi. Acara tahunan rutin ini dihadiri 1000-an tokoh AS dari berbagai kalangan dan sejumlah tokoh dunia, baik pemerintahan, agama, politisi dan cendekiawan. Dari Indonesia selain Din Syamsuddin hadir juga Wapres Jusuf Kalla.

Pada acara tersebut, sambil makan pagi bersama dan berdoa bagi perdamaian dunia,
juga diisi sambutan oleh mantan PM Inggris Tony Blair dan Presiden Obama sendiri.
Keduanya menekankan pentingnya upaya bersama mewujudkan perdamaian dunia dan
pentingnya peran agama-agama. Baik Obama maupun Blair mengutip ayat-ayat
Taurat, Injil dan al-Qur'an tentang kasih sayang.

Walaupun tidak ada tanya jawab, namun kedua sambutan tadi cukup mengisyaratkan visi baru kepemimpinan dunia bagi adanya tata kehidupan dunia baru yang damai, sejahtera, berkeadilan dan berkeadaban. Din Syamsuddin menilai pernyataan Presiden Obama cukup menggembirakan.

“Walau kita skeptis terhadap realisasi janji semacam itu, tapi dengan diucapkan berkali-kali kita boleh sedikit. optimis bahwa dia berbeda dengan pendahulunya, Bush”, papar Din.

Din berharap AS mengubah pendekatannya terhadap dunia luar yaitu dengan meninggalkan standar ganda dan penggunaan hard power dalam menyelesaikan masalah dunia. Inilah momentum, masih menurut Din, bagi AS untuk mengubah diri dalam memandang dunia lain. Kalau AS masih menggunakan paradigma lama ia akan diabaikan oleh negara-negara lain, tapi kalau berubah maka AS akan dapat menjadi motor perubahan dunia.

Din Syamsuddin yang sebelumnya berpidato di World Summit on Peace di NY, mengajak Dunia Islam untuk memberi kesempatan kepada Obama untuk merealisasikan janji-janjinya, sambil melihat apakah dia jujur pada dirinya sendiri. (ds)