Gerak Tauhid untuk Indonesia Bangkit (Khutbah Idul Adha 1433H)

Khutbah Idul Adha 1433H

 Gerak Tauhid untuk Indonesia Bangkit

Oleh:

Prof. Dr.  H. M. Din Syamsuddin, MA

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah

 

Assalamu’alaikum Wr.Wb.

Kaum Muslimin dan Muslimat yang dirahmati Allah Swt.,

Sungguh kita patut bersyukur kehadirat Allah Swt., bahwa pada hari ini kita umat Islam dapat merayakan Idul Adha, hari raya kurban atau hari raya pengorbanan. Idul Adha adalah hari raya yang terkait dengan pengorbanan Nabi Ibrahim As., yang pernah diperintahkan Allah Swt., lewat mimpi untuk menyembelih putra tercinta Ismail As., namun kemudian digantikan dengan seekor qibas, karena memang perintah itu hanyalah ujian keimanan.

Peristiwa yang dialami Nabi Ibrahim As., dan ibadah kurban yang diperintahkan Allah kepada kita kaum beriman, memiliki dua dimensi utama:

Pertama, hubungan vertikal manusia dengan Allah Yang Maha Pencipta (hablun min Allah) yang harus berlangsung atas dasar keikhlasan pengabdian. Yaitu hubungan yang ditegakkan atas dasar cinta tanpa pamrih. Sulit dibayangkan bahwa Ibrahim As., rela memenuhi perintah menyembelih Ismail, putra satu-satunya, buah penantian panjang dari kemandulan isteri bertahun-tahun, kini sedang tumbuh berkembang sebagai seorang pemuda tampan. Logika manusia modern mungkin akan menolak perintah mimpi seperti itu yang hanya dianggap sebagai bunga tidur. Manusia modern mungkin akan mencari dalih bahwa perintah itu hanyalah tipu daya setan yang harus dihindari. Kecintaan manusia modern kepada dunia akan menghalanginya untuk melenyapkam milik yang paling dicintainya lewat tangan sendiri.

Namun, tidaklah demikian dengan Ibrahim As. Nabi kekasih Allah (Khalilullah), yang dikenal sebagai Bapak Monoteisme karena pencarian panjang dan intensnya akan Tuhan Yang Maha Esa, telah memilih jawabannya sendiri. Kecintaannya yang tulus kepada Allah, yang didasari pada keimanan yang kuat menghujam dalam diri, dan ketaatannya kepada Allah yang mengatasi segala loyalitas kepada makhluk, telah menggerakkan hatinya untuk memenuhi perintah Allah, walau secara manusiawi sangat berat untuk dilaksanakan.

Idul Adha dan ibadah kurban mengajarkan kepada kita untuk kembali kepada Allah, yaitu dengan  menjadikan Allah sebagai pusat kesadaran dan kehidupan. Revitalisasi tauhid di tengah-tengah erosi keimanan dewasa ini adalah hal yang perlu dilakukan oleh kaum beriman. Kehidupan pada masa modern telah melahirkan dua tipe manusia. Pertama, manusia yang sombong dan angkuh sehingga ia menggeser pusat kesadaran dan kehidupannya dari Tuhan Pencipta (theo-centrism) kepada suatu kehidupannya dan kesadaran akan kekuasaan manusia (anthropocentrism), sehingga manusia menyembah dan mengabdi kepada dirinya sendiri. Kedua, manusia yang tiada berdaya dan terjajah oleh manusia dan makhluk lain, dan lupa akan kemahakuasaan Allah, sehingga dia menyembah dan menyerahkan segala urusan kepada makhluk lain. Idul Adha, ibadah kurban dan ibadah haji yang merupakan napak tilas perjalanan Ibrahim As., mengajarkan kepada kita betapa penting bagi kita untuk meneguhkan komitmen keimanan hanya kepada Allah, Pencipta manusia dan alam semesta.

Para jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah,

Kedua, ibadah kurban berdimensi horizontal (hablun minannas), yaitu adanya kepedulian terhadap sesama manusia, bukanlah suatu kebetulan bahwa Allah menggantikan pengorbanan Ibrahim As., dengan seekor qibas dan memerintahkan kita untuk menyembelih hewan kurban, melainkan karena pengabdian kita kepada Allah haruslah dapat membawa dampak kemaslahatan kepada sesama manusia.

Menyembelih hewan kurban dan kemudian membagikan kepada fakir miskin dan kaum dhua’fa tentu merupakan amal kebajikan yang mempunyai implikasi social yang cukup berarti. Daging-daging hewan kurban yang kita bagikan pada saat Idul Adha dan hari-hari tasyrik akan merupakan nikmat bagi saudara-saudara kita yang hampir tidak pernah mengonsumsi daging, karena mungkin bagi mereka daging adalah menu yang terlalu mewah. Di samping itu, daging hewan kurban yang dibagikan adalah sebagai bentuk rasa empati, simpati serta kepedulian kita kepada masyarakat yang berhak, kaum lemah, kaum papa, yatim-piatu, dan fakir-miskin tanpa membedakan serta melihat mereka beragama, bersuku, berbangsa, dan berwarna kulit apa. Dengan demikian, idhul Adha juga merupakan ritual yang diharapkan berdampak sosial positif bagi semua kalangan.

Namun, yang lebih penting adalah bukan penyembelihan dan pembagian daging kurban itu sendiri, tetapi kepedulian dan kesadaran kita untuk mau berbagi kepada sesama adalah wujud dari ketakwaan kita kepada Allah.

Allah berfirman dalam al-Qur’an:

“Sekali-kali tiadalah daging-daging itu mencapai keridhaan Allah, tapi ketakwaan darimulah yang mencapai ridoNya”

Para jamaah Idul Adha yang dirahmati Allah,

Kedua dimensi ibadah kurban tadi menunjukkan bahwa keberagamaan kita haruslah berpangkal pada keimanan kepada Allah yang kita jelmakan dalam keikhlasan pengabdian kepadaNya, dan kemudian harus bermuara pada kemaslahatan bagi sesama manusia; kemashlahatan bagi semua lapisan dan golongan masyarakat; rahmat bagi sekalian alam. Keberagamaan yang hanya berhenti pada keimanan tanpa peribadatan adalah keberagamaan yang kering-kerontang. Sedangkan, keberagamaan yang berhenti pada peribadatan saja tanpa membuahkan amal kebajikan adalah keberagamaan yang kosong hampa.

Pergeseran kata kurban, yang secara harfiah dalam bahasa Arab berarti pendekatan (diri kepada Allah), kepada kata pengorbanan dalam bahasa Indonesia yang mengandung arti melepaskan suatu yang paling berharga sekalipun demi sesuatu yang lebih mulia, membawa makna positif, yaitu bahwa pendekatan diri kita kepada Allah (taqarrub ila Allah) harus mengejawantah dalam sikap rela memberi yang terbaik untuk mencapai kemuliaan.

Makna positif tersebut berdampak positif lebih jauh lagi, yaitu bahwa idul Adha atau idul kurban merupakan bentuk pengorbanan sebagai buah dari kesadaran akan nilai-nilai luhur dalam hal perjuangan menghindari egoisme pribadi dan juga kelompok. Ibrahim As., adalah prototype manusia atau hamba Allah yang semenjak awal tidak mementingkan diri sendiri bahkan juga terhadap kelompoknya. Bagi Ibrahim As., yang terpenting adalah bahwa setiap perbuatan harus ikhlash dilaksanakan, diabdikan untuk mensyukuri karunia Allah yang telah banyak dilimpahkan serta dikerjakan untuk membawa dampak yang mashlahat bagi manusia dan alam, tanpa membeda-bedakan derajat, agama dan bangsanya. Dengan demikian, Ibrahim As., merupakan simbol keteladanan sosial bagi setiap upaya “Menjalin Kebersamaan dalam Kemajemukan; Menebar Empati untuk Semua”.

Jamaah Idul Fitri yang berbahagia,

Terbentuknya insan paripurna adalah prasyarat bagi terwujudnya masyarakat utama (khaira ummah), karena insan paripurna adalah elemen terkecil dari masyarakat utama itu. Jika umat Islam, seperti dinyatakan oleh al- Qur’an, adalah khaira ummah atau masyarakat utama/terbaik, maka harus terdiri dari individu-individu yang paripurna. Sebagai khaira ummah, umat Islam harus memiliki keunggulan-keunggulan dalam berbagai bidang kebudayaan dan peradaban. Hal ini pernah diraih oleh umat Islam ketika mereka berjaya dalam bidang ilmu pengetahuan dan teknologi pada abad-abad pertengahan. Pada saat itu, umat Islam, dengan disinari wahyu al- Qur’an, berhasil menemukan dan mengembangkan berbagai cabang ilmu pengetahuan dan filsafat yang merupakan pilar suatu peradaban tinggi. Sebagai hasilnya, umat Islam menjadi pemegang supremasi peradaban dunia.

Namun, kejayaan peradaban Islam itu tidak berlangsung terus, tetapi justeru mengalami kemunduran hingga sekarang ini. Dunia Islam menjadi mundur, dan umat Islam terjatuh kepada tiga masalah sekaligus citra utama, yaitu kemiskinan, kebodohan dan keterbelakangan. Umat Islam menghadapi masalah kesenjangan antara jumlahnya yang besar dan kualitas perannya bagi peradaban dunia. Umat Islam yang berjumlah sekitar 1,4 milyar orang atau sekitar 22% dari total penduduk dunia hanya dapat memberi sumbangan 5% terhadap perekonomian dunia. Begitu pula dalam bidang ilmu-pengetahuan dan teknologi, umat Islam nyaris menjadi konsumen dari pada produsen. Dunia Islam tidak banyak memiliki ilmuwan sejati dan kurang memiliki pusat-pusat keunggulan akademik (center for academic excellent) yang merupakan prasyarat bagi kemajuan ilmu-pengetahuan dan teknologi. Walaupun banyak Negara Islam yang mempunyai sumber daya alam yang kaya raya, tetapi karena tidak didukung oleh sumber daya manusia yang berkualitas, maka hamper tidak ada Negara Islam yang bisa dikategorikan sebagai negara maju.

Dalam konteks Indonesia, fenomena serupa juga terjadi. Sebagai bagian terbesar dari bangsa ini umat Islam belum dapat menampilkan peran terbesar. Umat Islam Indonesia menghadapi masalah rendahnya kualitas infrastruktur sosial, ekonomi dan pendidikan. Dalam bidang pendidikan, banyaknya lembaga pendidikan yang dilola umat Islam belum sepadan dengan mutu lembaga-lembaga pendidikan tersebut, walaupun sudah mulai muncul sekolah-sekolah berkualitas. Dalam bidang ekonomi terdapat ironi. Islam yang masuk ke Nusantara lewat jalur ekonomi karena dibawa oleh dai-dai pedagang, yang kemudian ikut mempengaruhi terbentuknya kelas menengah Islam yang relatif berjaya dalam bidang ekonomi dan kemudian membentuk sentra-sentra perekonomian umat di beberapa daerah, kini terpuruk dan belum dapat bangkit kembali. Kalau dalam bidang pendidikan keagamaan ada fenomena “robohnya surau kami”, dalam bidang ekonomi ada fenomena “runtuhnya kedai kami”. Kelemahan dalam bidang ekonomi ini membawa dampak terhadap bidang-bidang kehidupan lain, baik sosial, pendidikan, politik maupun dakwah.

Kesenjangan antara idealitas Islam dan realitas kehidupan umat Islam adalah masalah besar yang harus diatasi. Kalau umat Islam ingin bangkit kembali merebut supremasi peradaban dunia, maka tidak ada pilihan lain kecuali umat Islam menangkap kembali api dan semangat Islam. Islam adalah agama kemajuan, yang mendorong kehidupan umatnya ke arah hidup yang berkemajuan. Jika kemajuan Eropa didorong oleh etika Protestanisme yang menekankan kerja keras, produktifitas, penghargaan akan waktu, dan penghematan -- begitu pula kebangkitan Asia-Pasifik karena etika Konghucu yang juga menekankan nilai-nilai yang sama--  maka Islam jauh lebih kuat mendorong nilai-nilai etika tersebut dalam banyak ayat al- Qur’an dan al- Hadits. Bahkan sebagai khaira ummah, umat Islam diperintahkan oleh al- Qur’an untuk menjadi saksi-saksi bagi umat manusia seperti dalam ayat:

“Dan dengan demikian Kami jadikan kamu semua umat tengahan supaya kamu semua menjadi saksi-saksi atas semua manusia, dan Rasul menjadi saksi atas apa yang kamu semua lakukan. . . “ (al-Baqarah: 143).

Dari ayat tadi terdapat isyaratbahwa umat Islam perlu menampilkan dua macam syahadat. Selain harus menampilkan “syahadat keyakinan” yaitu keyakinan akan keesaan Allah SWT dan kerasulan Muhammad SAW (La Ilaha illallah, Muhammadur rasulullah), umat Islam perlu juga sebagai manifestasi “syahadat keyakinan” itu untuk menampilkan “syahadat kebudayaan dan peradaban”, yaitu dengan memberi bukti-bukti bahwa kebudayaan dan peradaban Islam adalah tinggi. Maksudnya, umat Islam harus tampil merebut kemajuan dan keunggulan dalam kebudayaan dan peradaban.

 Jamaah Idul Adhayang dirahmati Allah  SWT,

Pada ayat tadi, cita-cita kemajuan dan keunggulan dikaitkan dengan keberadaan umat Islam sebagai “umat tengahan” (ummatan wasthan). Citra diri sebagai “umat tengahan” mengandung arti bahwa umat Islam tidak boleh terjebak kepada spektrum ekstrimitas dan keberagamaan dan kehidupan. Sebaliknya, umat Islam perlu mengambil posisi tengahan (median position) dalam menegakkan keseimbangan dan keadilan dalam kehidupan pribadi, keluarga, maupun bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Memang, menurut para ulama, seperti Imam al- Ghazali, akidah Islam adalah akidah tengahan (al- aqidah al- wasithiyyah) yang menjaga keseimbangan antara hablun minallah dan hablun minannas, antara kehidupan duniawi dan kehidupan ukhrawi, dan antara kehidupan individual dan kehidupan sosial. Akidah tengahan ini dapat juga diterapkan pada berbagai aspek kehidupan lain.

Sebagai umat tengahan dengan akidah tengahan maka keberagamaan umat Islam perlu juga mengambil posisi jalan tengah (middle path). Posisi jalan tengah dalam beragama adalah posisi keberagamaan yang tidak terjebak baik kepada ekstrim yang hanya mementingkan kehidupan ukhrawi saja sehingga melupakan kehidupan duniawi, atau sebaliknya, mementingkan duniawi saja sehingga melupakan kehidupan ukhrawi. Keberagaman tengahan mengejawantah dalam kesungguhan hidup pada dua dunia itu, seperti tercermin dalam kata hikmah “berbuatlah untuk duniamu seolah-olah kamu hidup selamanya, dan berbuatlah untuk akhiratmu seolah-olah kamu mati besok”. Keberagamaan tengahan, dengan demikian, adalah keberagamaan total dan komprehensif, bukan keberagamaan parsial, yakni demi keseimbangan mengambil sebagian dari setiap dua hal. Keberagamaan tengahan juga mengambil bentuk keberagamaan proporsional, yaitu menjalankan ajaran-ajaran agama sesuai dengan proporsinya.

Islam jalan tengah seperti itu mungkin bisa menjadi solusi bagi Indonesia yang kini masih terpuruk. Sejak era reformasi sepuluh tahun yang lalu, memang harus diakui banyak kemajuan yang telah dicapai dalam kehidupan kebangsaan kita, tetapi kita tidak bisa menutup mata bahwa masih banyak masalah di hadapan kita. Proses kehidupan bangsa selama ini belum membawa perubahan mendasar. Memang multi krisis telah bergerak dari palungnya yang paling dalam, tetapi proses kepulihan belum tiba di permukaan. Dalam bidang ekonomi kita bersyukur telah keluar krisis tetapi perbaikan tarap kehidupan ekonomi masyarakat masih jauh dari harapan. Angka kemiskinan masih tinggi, begitu pula angka pengangguran. Sebagian rakyat masih hidup dalam kesusahan untuk bisa memenuhi kebutuhan sehari-hari, apalagi untuk membiayai pendidikan dan kesehatan anggota keluarga. Fenomena kemiskinan rakyat Indonesia memang masih memprihatinkan, seperti ditunjukkan pada penyaluran dana yang bersifat massal, begitu banyak rakyat jelata yang rela berjejal di bawah terik panas matahari hanya untuk harapan menerima dua puluh rupiah. Fenomena kemiskinan ini menampilkan ironi bagi Indonesia yang kaya akan sumber daya alam. Memang ironi ketika ayam mati di lumbung padi.Tetapi, jawabannya sangat jelas, bahwa pengelolaan sumber daya alam kita, baik yang ada di perut bumi seperti minyak, gas, batu bara, emas, tembaga, maupun yang ada di atas tanah seperti kayu, coklat, cengkeh, serta di dalam laut Indonesia seperti ikan, dan lain-lain, lebih banyak menguntungkan pihak luar dari pada membawa kesejahteraan bagi rakyat kita sendiri. Sumber daya alam kita terkuras dan terjarah oleh pihak asing adalah karena kita sendiri bersedia “dijajah” sehingga mau menjual tanah dan air yang kita miliki dengan harga murah.

Dalam bidang politik memang ada kemajuan. Proses demokrasi yang berlangsung selama ini mendapat pujian banyak pihak bahwa Indonesia sedang bangkit menjadi negara demokrasi terbesar keempat dan negeri Islam demokratis terbesar di di dunia. Demokratisasi yang ditandai oleh pembentukan lembaga-lembaga quasi negara dan proses pemilihan langsung kepala daerah dan negara adalah prestasi yang patut dipuji. Namun prestasi tersebut bukan tanpa cela dan harga mahal yang harus dibayar. Pemilihan langsung, umpamanya, telah menimbulkan keretakan sosial; bukan hanya antar partai-partai politik pengusung calon, tetapi dalam satu partai politik, bahkan organisasi masyarakat sekalipun. Lebih dari pada itu, banyak partai politik yang mungkin dipandang sebagai manifestasi kebebasan dan persamaan hak politik rakyat warga negara sangat potensial menciptakan disintegrasi sosial, termasuk di kalangan umat Islam. Hal ini mungkin terjadi kala seseorang memberi loyalitas berlebih terhadap partai yang acapkali menampilkan fanatisme kelompok yang berlebihan pula. Sebagai akibatnya, keretakan bahkan perpecahan masyarakat tak terelakkan. Bahkan ukhuwah Islamiyah bisa menjadi korban akibat orientasi duniawi yang ekstrim ini.

Demokrasi Indonesia memang masih bersifat prosedural, belum bersifat substantif apalagi fungsional untuk mewujudkan kesejahteraan bagi rakyat. Kita tidak mungkin memutar arah jam sejarah kea rah otoritarianisme politik, tetapi kita tidak boleh membiarkan proses demokrasi itu berlangsung liar tanpa kendali. Sudah saatnya proses demokrasi ini kita koreksi dengan mensenyawakan nilai-nilai etika dan moral politik berdasarkan agama dan budaya luhur bangsa. 

Pada tataran internasional, kita masih menghadapi masalah rendahnya daya saing bangsa dalam berbagai bidang, baik dalam bidang  seni budaya, ilmu pengetahuan dan teknologi maupun perekonomian. Sebagai bangsa besar, seyogyanya Indonesia bisa tampil sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia. Tetapi, citra kita sebagai bangsa besar itu belum menjelma dalam hubungan antar bangsa dewasa ini. Kebangkitan dan kemajuan kawasan Asia Pasifik atau Asia Timur di mana Indonesia berada belum dapat kita manfaatkan dengan sebaik-baiknya. Jika hal ini tidak segera disadari dengan langkah-langkah penghadapan nyata, maka tidak mustahil kita hanya akan jadi penonton terhadap dinamika kawasan yang berkembang cepat, sementara Indonesia yang kaya raya menjadi mangsa empuk kedigdayaan macan-macan Asia baru itu.

Fenomena keterpurukan tadi masih dapat ditambah dalam bidang moral. Bahwa masalah demi masalah yang kita hadapi ternyata berpangkal pada krisis moral. Tetapi arus demoralisasi yang melanda kehidupan bangsa tidak cukup disadari sebagai ancaman serius bagi eksistensi bangsa itu sendiri. Hal ini terjadi ketika kita terjebak ke dalam permisivisme budaya, yaitu dengan membiarkan dan mengabaikan proses dekadensi moral yang terjadi secara sistematis tanpa tergerak untuk mengatasi dan menghalanginya. Bahkan pelanggaran moral itu nyaris menjadi “moralitas publik” baru kala sebagian dari kita mau untuk terlibat dalam pelanggaran yang bersifat kolektif. Itulah yang terjadi pada perkembangan budaya hedonistik yang mendapat dukungan masif dari warga masyarakat. Begitu juga pada kasus korupsi, banyak elit pada banyak lingkaran mau melakukannya secara terbuka dan berjamaah. Kita memuji pemberantasn korupsi yang sudah mulai menggeliat, tetapi kita masih bersedih bahwa praktek-praktek korupsi masih terjadi, baik di lingkaran eksekutif, legislatif maupun yudikatif. Bahkan praktek-praktek serupa masih terjadi dengan melibat rakyat pada lapis bawa, yaitu ketika mereka terpaksa berkompromi dalam pengurusan dokumen-dokumen sebagai warga negara dan di jalan-jalan raya. Memang korupsi belum menjadi budaya, tetapi jika praktek-praktek yang ada tidak segera diakhiri maka tidak mustahil akan membawa kerusakan bangsa.  

Jamaah Idul Adha yang terhormat,

Bagaimana dengan peran umat Islam terhadap kemajuan bangsa? Umat Islam dapat tampil memberi solusi. Sebagai bagian terbesar dari bangsa yang telah memberi peran besar dan strategis bagi pembentukan bangsa pada masa lalu, umat Islam harus merasa memiliki tanggung jawab terbesar pula untuk mengatasi aneka masalah yang dihadapi bangsa dewasa ini. Umat Islam harus tampil sebagai problem solver atau penyelesai masalah bangsa, tentu dengan bekerja sama dengan komponen-komponen bangsa lainnya.Karena penyelesaian problematika Indonesia tidak bisa ditangani oleh suatu kelompok tertentu, tetapi harus dengan kebersamaan seluruh elemen bangsa, baik pemerintah maupun masyarakat madani.

Namun, sebagai kelompok mayoritas umat Islam harus tampil sebagai salah satu faktor determinan Indonesia. Maju mundurnya bangsa di masa depan harus ikut ditentukan oleh maju mundurnya umat Islam. Jika umat Islam maju maka Indonesia akan maju. Begitu pula sebaliknya, jika Indonesia terpuruk berarti ada yang salah dalam diri umat Islam yang belum mampu mendorong kemajuan Indonesia.

Oleh karena itulah, Jalan Tengah mungkin dapat menjadi solusi. Jalan Tengah ini perlu menjadi bagian dari kesadaran baru umat Islam dan Bangsa Indonesia. Paling tidak ada sepuluh watak budaya merdeka  yang perlu menjadi budaya baru Bangsa Indonesia. Dasa watak budaya  itu adalah sebagai berikut:

 

10  WATAK BUDAYA MERDEKA

Merdeka dari kebiasaan mementingkan diri sendiri atau kelompok dengan mengedepankan kepentingan publik dan kepentingan bangsa yang lebih luas.

Merdeka dari  tirani perasaan benar sendiri  menjadi anak bangsa yang toleran dan menghargai perbedaan.

Merdeka dari sifat-sifat feodalisme dan primordialisme menjadi egalitarian yang menempatkan sesama  anak  bangsa  dalam posisi dan perlakuan yang sama.

Merdeka dari budaya yang hanya mencela  belaka dengan membangun budaya menghargai upaya dan hasil karya orang lain.

Merdeka dari  budaya nepotisme dengan mengedepankan kultur  meritokrasi atau prestasi

Merdeka dari kultur kekerasan menjadi bangsa yang beradab dalam menyelesaikan setiap persoalan

Merdeka dari kecintaan pada dunia fana belaka dan mulai menyeimbangkan kehidupan dengan menjalankan ajaran agama yang baik (agama yang fungsional yang tidak hanya berhenti pada spritualisme pasif  tetapi  spritualisme aktif dan dinamis yang mendorong daya saing dan mendorong etos kerja sehingga bangsa dapat bersaing dipentas global  )

Merdeka dari  kebiasaan korupsi dan mulai bekerja membangun prestasi dan menuai karya dari hasil keringat sendiri

Merdeka dari  ketergantungan dari bangsa lain dan mulai membangun kemandirian nasional, mulai kerjasama internasional yang adil dan saling menguntungkan

Merdeka dari  rasa rendah diri dalam pergaulan antar bangsa dan menjadi bangsa yang berdiri sama tinggi dengan bangsa-bangsa lain di dunia ini

 

Kaum Muslimin dan Muslimat yang dirahmati Allah SWT.

Sebagai insan yang beragama kita semua harus optimis bahwa Bangsa Indonesia akan dapat bangkit merebut kemajuan dan keunggulan. Memang kita tidak boleh bersedih apalagi berputus asa akan masa depan kita. Keadaan kita pada masa depan sangat ditentukan oleh kemampuan kita untuk merubah diri dan melakukan perubahan itu sendiri, seperti dinyatakan Allah SWT dalam al- Qur’an:

“Sesungguhnya Allah SWT tidak akan mengubah keadaan sesuatu bangsa, melainkan bangsa itu sendiri melakukan perubahan terhadap apa-apa yang adalam diri mereka sendiri” (al- Ra`d: 11).

Marilah kita bermunajat ke hadirat Allah SWT, memohon ampun dosa dan memohon kekuatan lahir dan batin bagi keselamatan hidup kita di dunia dan akhirat:

Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami, dan dosa-dosa orang-orang yang beriman kepadaMu, baik yang masih ada maupun yang telah tiada. Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami  dan dosa-dosa kedua orang tua kami serta rahmatilah mereka sebagaimana mereka telah membimbing kami sejak kecil.

Ya Allah, terimalah segala amal ibadah kami pada Bulan Ramadhan. Berilah kami kemampuan untuk memaknainya dan kemampuan mengamalkan makna-makna itu dalam kehidupan nyata pada masa akan tiba.

Ya Allah, berilah kami kekuatan lahir dan batin untuk menghadapi masa depan yang penuh tantangan. Berilah kami kemampuan untuk mengatasi masalah-masalah yang ada atas bimbingan wahyuMu.

Ya Allah, limpahkanlah atas kami ketetapan hati untuk bangkit dari ketrpurukan. Berilah kami hikmah kebijaksanaan untuk menggalang kebersamaan untuk mewujudkan Indonesia berkemajuan.

 

Wassalamu`alaikum Wr. Wb.

Share

Contact us

  • Address: Jln. Kemiri No. 24, Menteng, Jakarta 10350
  • Tel: +6221 315 4939
  • Fax: +6221 390 9656